Senin, 30 Oktober 2017

Mengetahui Akibat dari Kista Bartholin Pecah Sendiri

Kista bartholin pecah sendiri sebenarnya bukan sebuah keadaan yang perlu terlalu dikhawatirkan. Karena sebenarnya kista bartholin sendiri termasuk ke dalam golongan tumor jinak. Namun demikian bukan berarti jika memiliki kista bartholin bisa diremehkan begitu saja dan tidak melakukan upaya penyembuhan sama sekali. Bartholin sendiri sebenarnya merupakan kelenjar yang terdapat dalam dua sisi bibir vagina dan berfungsi untuk mengeluarkan cairan sebagai pelumas saat berhubungan seks. 


Kelenjar ini berukuran kecil sehingga tidak mudah dideteksi dengan menggunakan tangan atau mata. Kelenjar bartholin akan mengeluarkan cairan yang mengalir langsung menuju vagina. Penyebab timbulnya kista pada kelenjar bartholin adalah adanya saluran yang tersumbat dan menampung kelebihan cairan sehingga lama kelamaan berkembang menjadi kista. Pada saat berhubungan seks, kista bartholin akan bekerja untuk menghasilkan cairan sebagai pelumas. Alhasil cairan tersebut akan semakin bertambah setelah berhubungan seks dan menyebabkan kista bartholin semakin membesar.

Penyebab dan gejala kista bartholin

Penyumbatan yang terjadi pada kelenjar bartholin bisa disebabkan karena infeksi bakteri dan iritasi jangka panjang. Peradangan pada kelenjar bartholin juga bisa menyebabkan terjadinya penyumbatan yang menimbulkan kista. Infeksi yang terjadi bisa disebabkan karena adanya bakteri penyebab IMS (infeksi menular seks) seperti bakteri Gonococcus. Bakteri ini merupakan bakteri yang menyebabkan penyakit gonore dan kencing nanah. Bakteri lainnya seperti E. Coli (bakteri penyebab diare) dan Haemophiluz infulenzae ( bakteri penyebab meningitis ) juga dapat menyebabkan infeksi bakteri pada kelenjar bartholin. 

Kista bartholin yang belum terinfeksi tidak akan menimbulkan gejala apapun seperti rasa sakit atau rasa nyeri. Bentuknya adalah benjolan kecil dan dapat teraba lunak. Kista bartholin biasanya baru akan diketahui setelah adanya pemeriksaan yang dilakukan secara rutin pada area panggul. Namun sebaliknya jika kista bartholin sudah terinfeksi maka akan ada gejala yang ditimbulkan seperti sering merasakan sakit saat beraktivitas, adanya pembengkakan pada area vulva, keluar cairan dari benjolan dan tubuh yang menggigil atau demam.

Jika sudah merasakan beberapa gejala di atas sebaiknya Anda melakukan pemeriksaan ke dokter. Karena jika terus menerus dibiarkan dikhawatirkan infeksi yang terjadi dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya seperti pembuluh darah. Dalam keadaan kista bartholin pecah sendiri, Anda juga harus segera melakukan pemeriksaan ke dokter karena dikhawatirkan cairan yang keluar dari kista tersebut dapat menyebar dan menimbulkan infeksi.

Mengatasi gangguan pada kelenjar bartholin

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan pada kelenjar bartholin. Berikut adalah langkah-langkah yang dianjurkan :
  1. Merendam vagina dalam air hangat sebanyak 3 atau 4 kali dalam satu hari. Bagian yang direndam adalah vagina, panggul hingga bokong. Tujuannya adalah untuk meluruhkan kista yang mengalami infeksi secara perlahan. 
  2. Dokter biasanya akan meresepkan anti biotik untuk mengatasi kista yang terinfeksi sama halnya ketika mengalami infeksi karena penyakit seksual menular. 
  3. Marsupuliasasi. Tindakan ini dilakukan oleh dokter yaitu dengan menjahit pada tiap sisi sayatan drainase degan tujuan untuk membuat bukaan permanen berukuran 6 mm. Setelah beberapa hari, bukaan tersebut dimasuki kateter untuk mengeringkan cairan. 
  4. Operasi pengeringan cairan. Langkah ini dilakukan pada kista yang berukuran cukup besar atau yang sudah terinfeksi parah.
Jika mengalami gangguan pada kelenjar bartholin sebaiknya Anda melakukan pemeriksaan ke dokter untuk mencegah hal yang dapat menimbulkan infeksi lebih lanjut. Salah satu hal yang bisa menyembuhkan gangguan tersebut adalah ketika kista bartholin pecah sendiri.

“Terima kasih sudah membaca blog saya, silahkan tinggalkan komentar”